Selasa, 24 Januari 2017

Halo from 2017

Hai, gaess..
Today January 24th 2017. Yap, kalian enggak salah baca. Sekarang sudah tahun dua ribu tujuh belas. Tiga tahun sejak terakhir kali gue ngeposting tulisan di blog ini. Entah sudah berapa generasi laba-laba yang lahir di blog ini saking lamanya ditelantarkan.

Hmm, sebenarnya gue enggak pengen nulis apa-apa. Tadinya cuma iseng masukin nama gue di search engine Google, dan yak! Ketemulah blog ini. Gue baca-baca apa aja yang pernah gue tulis. Gue ngakak, senyum dan rindu. Apa yang udah lama pergi ternyata bisa kita rindukan juga. Nah, ketebak kan gue mau nulis apa? Hahah..

Gaess, banyak yang berubah sejak terakhir kali gue nulis disini. Banyak banget. Gue enggak kuliah lagi. Gue udah kerja di salah satu perusahaan swasta. Gue udah pinter pake lipstik dan pensil alis. Ucy akhirnya menikah dengan Faiz dan Diman menolak hadir di acara spesial itu dengan dalih deadline kerjaan di kantornya. Nawi udah punya pacar baru dan sepertinya enggak lama lagi menyusul Ucy. Comet udah enggak ada kabar lagi. Hanya beberapa orang yang sering ribut di grup sosmed untuk kemudian hening, tenggelam dan mulai dilupakan. Life must go on. Banyak yang berubah namun masih ada juga yang tetap tinggal. Gue misalnya..

Gue enggak berubah banyak. Masih pendek, kecil dan masih suka dipanggil anak SMP kelas 1 oleh ibu-ibu yang ketemu di angkot.

"Dek, sekolah dimanaki?". Gue senyum, "Selesai mi, Bu."

"Oh, kuliah mi. Mahasiswa baru ki pasti toh?". Gue menghela nafas. "Iye, Bu. Ini mau pergi beli perlengkapan ospek."

Gue enggak berubah banyak. Masih mellow. Bahkan jauh lebih mellow. Hahah,,

Yang pernah gue singgung di tulisan sebelumnya akhirnya enggak bisa selalu membersamai gue. Sabarnya ternyata masih berbatas hingga enggak mampu menangani kerasnya kepala gue yang emang enggak terbuat dari tempurung kelapa. Gue akhirnya patah hati lagi setelahnya. Sempat nangis-nangis di perpustakaan kampus untuk kemudian pelan-pelan berhasil berpindah. Yap, gue move on. Bukan karena gue segampang itu beralih ke hati yang baru, gue berpindah dari yang tadinya enggak terbiasa menjadi biasa. Semuanya emang masalah keterbiasaan kan?

Sampai akhirnya gue sampai di hari ini. Beberapa hari yang lalu, Ucy memutuskan menikah dengan laki-laki yang berhasil membuat dia percaya. Nawi udah jadi pegawai negeri di salah satu instansi negara, dan terlihat kebapak-bapakan 'paksa' waktu gue liat dia pake setelan baju plus peci di akun instagramnya. Nawi, tua meko pi meko lamar anaknya orang cepat hahah 😝
Diman sedang sibuk menjadi seorang pekerja yang entah bagaimana isi hatinya. Hahaha *maafkanka abang selalu kusudutkan isi hatimu yang entah bagaimana sebenarnya*

Entah di tanggal dan tahun berapa lagi gue akan menulis disini lagi, yang jelas gue akan menuliskan satu kisah dari teman gue yang lainnya. Kehilangan yang tidak sepenuhnya hilang.

Dan yang sudah menemukan di ujung sana, selamat berbahagia. Doakan supaya yang sedang menulis disini juga bisa sebahagia kamu juga☺

Selasa, 07 Januari 2014

Bla Bla Bla

I am at a payphone, trying to call home.
All of my change I spent on you.
 Where have the times gone? Baby, it’s all wrong.
Where the plans we made for two?

I’m listening “Payphone” a song by Maroon5 but covered by Gamaliel and Audrey. Nice song and remind me about something. About someone. We called it ‘Kenangan’ and ‘Mantan’. M-A-N-T-A-N katanya saat kita memasukkan kata tersebut ke search enginengnya Google, maka yang keluar adalah ‘SETAN’ hahaha..

Kita punya banyak cerita. Dan perjalanan hidup kita tak ubahnya seperti sebuah buku dengan beribu halaman. Beberapa halaman sudah terisi dengan berbagai hal yang telah kita lalui. Kita menyebutnya masa lalu. Dan saat ini, dimana kita mengisi perjalanan hari ini adalah sebuah halaman yang tengah bercerita. Ribuan lembar lagi sudah menunggu perjalanan kita. Kita menyebutnya masa depan.

Masa lalu punya banyak cerita. Kita punya banyak luka. Kita punya cara untuk menyembuhkan luka itu, atau luka itu punya banyak cara melumpuhkan kita.

Kehilangan seseorang membuat daftar luka kita bertambah. Kehilangan dia yang dulunya sering hadir dan menjadi salah satu dari sekian alasan mengapa dunia kita terlihat lebih cerah, justru berhasil membuat awan di dunia kita menjadi kelabu. Kejadian menyedihkan yang bernama kehilangan itu merobohkan pertahanan kekuatan batin kita. Banyak yang berpura – pura kuat saat akhirnya kehilangan meninggalkan goresan luka yang dalam. Banyak yang berhasil menipu banyak orang dengan senyuman dan tawanya ketika kehilangan memunculkan pertanyaan sok simpatik, “Baik baik jeko nah?”