Senin, 13 Agustus 2012

Flashback: Kue Donat Batu Dari Afrika

Hari itu pelajaran Biologi. Gurunya adalah wali kelas kami selama 2 tahun. Perjuangan mempertahankan beliau untuk menjadi wali kelas kami sama susahnya memperjuangkan baterai hape yang sudah mau lowbat sedangkan kita masih mau sms-an. Gak nyambung? Okesip! Lupakan,,

"Kalian bagi kelompok sendiri mii nah. Karena kalo ibu lagi yang bagi, pasti protes terus jii. Jadi kalian mi yang bagi saja. Nanti kue donatnya di kumpul minggu depan," kata ibu Salma hari itu.

Tadinya gue berpikir, kenapa pelajaran biologi tiba-tiba disuruh bikin kue donat? lama kelamaan gue ngerti kalo ternyata ada unsur di kue donat yg berhubungan dengan pelajaran itu. Mungkin.

"Weh, sama meki nah. Kau, saya, tamy, werni, ririn, tulla" kata Ucy, temen gue yang pada postingan sebelumnya udah gue ceritain secara singkat karakternya seperti apa. Gue mengangguk setuju sajalah. Secara gue enggak punya bakat sama sekali dalam hal masak meamasak ato buat membuat kue. Kecuali dalam hal pencicipan rasa, mungkin gue bisa diandalkan.

"Rin, kau satu kelompok sama saya saja nah? ada ji tamy , werni sama dilla juga," lanjutnya lagi sambil berbicara ke arah Ririn a.k.a Parit.

"Saya terserah jii, cy. Yang jelas ada jii nilaiku kodong," ririn pasrah.

"Saya iyyah, ucy? nda ada temanku kodong," celetuk tulla.

"Iyoo, gabung meko sama kita-kita. nda rugi ko pasti," ucy meyakinkan.


Dan akhirnya temen-temen kelompok gue yang tadinya gue andalkan itu akhirnya buat jadwal buat bikin kue. Rumah yang jadi tempat percobaan kami adalah rumahnya tamy. pas kita datang ternyata dia belom mandi. Keliatan dari raut wajahnya yang mirip kain yang belum di setrika.

"Weh belum pi ka mandi datang meko semua cak, jadi sekali sore pa' baru mandi deh," tamy berjalan sempoyongan sambil mengajak kami ke dapurnya.

Gue langsung mengambil apa-apa saja yang kami butuhkan, baskom misalnya. Tulla duduk santai di lantai bersama ririn. Ucy menyiapkan bahan. Werny mengamati tingkah kami berdua sambil mencoba memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan.

"Weh, donat apa mau dibikin kah? donat gula ato donat yang pake meses?" tanya tamy.

"Sebenarnya mauka kalo dunkin donat yang dibikin, tapi kayaknya susah dii'? donat biasa mohh. Bikin ki yang banyak supaya bisa di jual juga do'," seru werny.

"Tenang, donat ji lagi. Maceku selalu bikin donat. Nda susah jii do'. Come on!" kata ucy.



Gue diem. Cuma berharap hasilnya nanti maksimal. Gue adalah tipe orang yang paling antusias masalah nilai. Jadi kalo nilai gue kenapa-napa, gue bakal ngamuk enggak jelas.

"Jadi mulai darimana meki ini?" gue meletakkan baskom di tengah-tengah mereka. Ucy mengambil terigu, gula, beberapa butir telur dan segala macam bahan yang enggak gue tau apa itu. Setidaknya dia ngerti kalo semua itu bukan bahan beracun yang bikin orang mendadak mencret-mencret 7 hari 7 malam seperti sumpah serapah yang biasa Ene ucapkan saat dia di bully sama temen-temen yang lain.

Ucy mulai mengikat rambutnya sama seperti werny sehingga enggak menghalangi pandangan mereka saat mulai membuat kue. Mereka mulai mencampur, mengaduk, menumbuk-numbuk hingga melempar-lempar adonan ke dalam baskom. Tadinya gue heran sendiri, bisa gitu adonan di lempar-lempar. Hampir protes juga, tapi Ucy seperti bisa membaca pikiran gue dan berkata, "Ini mi paling penting dari pembuatan donat, dill. Teknik melemparnya harus pas supaya nanti donatnya nda keras."

Gue mengangguk. Kue donat ini pasti sukses. Nilai 95 udah ditangan kalo seperti ini. Gue mencoba meyakinkan diri gue sendiri.

"Sekarang, adonannya harus kita tutup. Nda boleh kena udara, supaya mengembang ki," werny lalu menutup adonan yang sudah jadi dengan baskom yang lebih besar. Ririn dan Tulla diam-diam saja. Mereka mungkin memercayakan pembuatan kue ini kepada para wanita.

Sembari menunggu adonan mengembang, kami mulai bercerita. Ngegosip tentang guru, tentang pacarnya orang, tentang apa saja yang bisa bikin suasana rame.

Dua puluh menit berlalu. Gue mengintip adonan yang tertutup itu.

"Bemana dill? ngembang mi toh?" tanya ucy percaya diri.

"Keknya begitu-begitu tonji deh. Nda ada perubahan ku liat," jawab gue setelah memperhatikan bentuk adonan yang emang enggak ngembang.

"Jangko tanya sama orang minus, cy. Naiki kodong itu minusnya, jadi nda jelas na liat," kata werny lalu membuka penutup adonan tersebut. "Tapi kayaknya .."

Kami semua lalu bersama-sama mengamati adonan tersebut. Emang enggak berubah. Masih seperti 20 menit sebelumnya.

"Nda berubah tawwa. Cocok mii na bilang, dilla," kata Tulla seraya memencet-mencet adonan.

"Ededeh, jangko ganggu dulu. Tambah coba waktunya 15 menit lagi," Tamy kembali menutup adonan tersebut. Perasaan gue mulai enggak enak. Jangan-jangan kue donat ini bakal gagal.

20 menit kemudian, penutup adonannya kembali di buka. Belum ada perubahan seperti yang diharapkan. Adonannya enggak mengembang. Ririn justru mengukur tinggi adonan itu dan benar-benar enggak ada perubahan drastis.

"Kayaknya ini adonan cuma bertambah beberapa centi deh," katanya.

Ucy mulai berpikir dimana letak salahnya. Werny biasa-biasa saja. Tamy melongo hingga bibirnya hampir jatuh sama sepertu Tulla.

"Dimana salahnya dii'? Perasaan cocok mi deh," Ucy bertanya-tanya sendiri.

"Ato ulangi mi iyyah? Masih ada bahan ini tapi sedikit mamii," kata Tamy.

"Itu mohh, sapa tau begitu memang jii sesuai kadar bahan yang kau campur semua. Kalo diulang lagi, butuh waktu lagi na jam berapa mii ini," Tulla menjelaskan.

Dengan tekad yang kuat, kami melanjutkan percobaan ini. Berharap bahwa donat ini akan menjadi donat yang normal.

"Kau dilla, karena daritadi nda ada ko kerja, sekarang bikin meko bentuk donatnya," suruh Werny.

"Caranya?"

"Begine," Werny mulai mengajarkan cara membuat bentuk donat. Adonannya dia ambil terus di gulung-gulu hingga nanti kedua ujungnya dipertemukan.

"Oh, gampang!" Gue mulai mengikuti apa yang werny ajarkan. Sayangnya bentuknya agak aneh. Bolong di tengah-tengahnya mulai nda jelas.

"Jangko bikin sesuai body, dilla! Bikinko yang besar-besar sedikit," kata Tulla.

Akhirnya gue membuat yang lebih besar sedikit. Terlalu besar mungkin. Ada juga beberapa yang terlalu mini hingga Tulla mengumpulkan mereka dan membuat sebuah keluarga donat yang sakinah mawaddah wa rahmah. Adonan tadi yang sudah dibentuk kemudian di goreng oleh Tamy. Gue mulai girang sendiri, akhirnya tugas ini akan selesai juga.

Beberapa donat yang sudah jadi mulai dihiasi dengan Seres Cokelat. Ada yang aneh rasanya melihat donat ini. Kulitnya tidak seperti kulit donat pada umumnya. Biasanya gue liat donat yang lebih putih dari donat ini. Ibarat warga negara, donat ini seperti dari kebangsaan Afrika sedangkan donat yang sering mama gue beli itu dari Australia. Kayaknya emang ada yang salah deh.

Tulla mulai mencoba beberapa donat yang sudah jadi, begitu pun dengan Ririn. Gue mengamati mereka, setidaknya saat mereka muntah-muntah, gue bisa mengurungkan niat gue buat ikutan coba donat itu.

"Enak ji?" tanya Ucy.

"Bah, tapi agak nda lembek ki," Tulla menghabiskan kue donat ditangannya.

"Agak keras ki kaweh," kata Ririn.

"Jadi?" tanya Werny.

"Jammeko panik de-eh, karena nanti malam di bawa jii ke rumahnya ibu. Nda bermalam ji juga," kata Tulla santai. Gue mencoba meyakinkan diri gue lagi. Donat ini bakal jadi donat normal.

Malamnya, gue dan temen-temen gue kecuali Ririn ke rumah wali kelas kami untuk menyerahkan tugas itu. Kami adalah kelompok ke tiga tercepat saat mengumpulkan tugas itu. Acca, anak bungsu dari Ibu Salma menyambut kami dengan gembira. Dia lalu mengambil sekotak kue donat yang ada di tangan Werny.

"Mama mama, liat ki ehh kue donatnya kakak werny besar," katanya memamerkan kue donat ukuran XL itu ke Ibu Salma. Itu kue donat yang gue bikin. Kenapa juga mesti dimasukin?

"Kenapa na besar sekali?" tanya Ibu Salma.

"Dilla bikin itu, Bu. Na lajjui ihh," kata Tulla.

"Ini kue donat baru tadi kau semua bikin ato sudah 2 minggu mii?" tanya suami Ibu Salma kepada kami.

"Baru tadi itu pak nah," Werny membela kue donat kami.

"Keras na mama," protes Acca.

"Pake apako ini bikin ki semua nah? Kenapa jadi kue batu begini?" Ibu Salma mengamati dan mencoba menggigit kue donat kami.

"Sesuai bahan ji itu, bu," kata Ucy.

"Jadi nilai berapa mi ini ku kasih ko semua na gagal begini donatmu?"

"Mama mama, kasih tawwa nilai 84 untuk kakak-kakak karena besar ki donatnya," kata Acca.

"90 bede, Acca," gue mulai bersuara.

"Porena 90 baru ku donat na nda bisa di makan, 84 moh mama nahh," seru Acca lagi.

Gue dan temen-temen gue pasrah dengan nilai kami. Setidaknya ada pengalaman yang bisa gue jadikan pelajaran. Kalo perasaan mulai enggak enak, proteslah lebih cepat.

------------------------------------------************--------------------------------------

Keesokan harinya, Ibu Salma membawa kue itu dan memperlihatkan kepada teman-teman kelas kami. Mampus!

"Weh, liat saiko ini kue dari kelompoknya Dilla. Kue Donat nda bisa di makan, hitam lagi," kata Ibu Salma memamerkan kue donat kelompok gue.

Semua tertawa. Enggak ada pembelaan dari kelompok gue. Kami justru ikut tertawa.

"Ini bukan pengganjal perut. Tapi pengganjal batu," kata Ibu Salma sambil tertawa.

Tuhan semoga kue donat itu di terima di sisi-Mu yang terindah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar