Kali ini, gue mau ngeposting tentang apa yang gue lihat dari teman-teman gue. Sisi lain yang jarang sekali mereka tampakkan. Sisi lain yang justru membuat gue merasa kalo ternyata, mereka ternyata kadang-kadang "melow" juga. Sisi lain yang mungkin sering kita alami namun kita tampakkan dengan cara yang berbeda.
Malam itu, gue jadi stalker lagi. Ngintip timeline orang-orang yang menurut gue lagi seru buat diperhatikan. Gue emang biasa kepo tentang apa yang gue liat dan apa yang gue dengar. Kali ini perhatian gue tertuju status teman gue yang juga salah satu member Comet. Nawi. Lengkapnya, Muhammad Nawawi Mughni. Begitu kalau saya tidak salah ingat.
Gue stalking wall facebooknya. Lo tau kan facebook itu apa? *gampar
Dia lagi galau. Emang udah beberapa hari itu, santer terdengar kalo dia putus sama pacarnya yang udah 3 tahun sama-sama. Alasannya simple, bosan. Kejam. Sadis. Padahal biasanya yang bisa sesadis itu yah cowok-cowok, tapi ternyata kali ini berbeda ceritanya.
Gue tau, Nawi sayang banget sama dia. Keliatan dari matanya. Keliatan dari caranya mempertahankan perasaan dan hubungannya walaupun dia berada di Bandung. Bukan hal mudah bagi seorang cowok untuk tetap setia saat jarak memisahkan. Tapi ternyata teman gue yang satu itu bisa. Gue salut. Dia memang gila, tapi tidak dengan perasaannya untuk menggilai banyak cewek. Cukup satu cewe yang dia gilai. Nurul.
"Gue manusia biasa yang gak bisa membendung perasaan. Gak peduli dengan
pandangan mereka yang mengatakan bodohnya gue. Gue menunggu dan mencoba
bertahan. Gak peduli dengan omongan mereka yang mengatakan perbuatan gue
sia-sia. Mungkin, buat mereka yang tahu usaha gue yang 'sebenernya', mereka gak
hanya memotivasi gue, tapi nemenin gue di titik terlemah gue. Dan mereka
yang melihat dengan kasat mata, hanya akan menunjukkan simpati dengan
kata- kata
yang sebenernya gak terlalu gue butuhin. Bukannya gak tau terima kasih, hanya saja gue gak mau dikasianin. Sampai akhirnya, hari ini ada dan gue terdiam. Mungkin ini akan menjadi awal 'saatnya diam' bagi gue. Mungkin juga lo yang baca gak ngerti kenapa tiba-tiba ada kata 'diam' disini. Ini karena sebuah ketegasan tersirat dalam sebuah pembicaraan. Ternyata hal tersirat lebih mengenai sasaran daripada mengatakan 'aku tidak tahu alasannya'. Kini, gue udah tahu kelak gue akan bertemu dia sebagai apa. Ya, sebagai teman tanpa kata 'mantan' menyelip diantaranya. Gue gak perlu mikir akankah gue mau bertemu dengan dia. Gue gak perlu mikir apa yang harus gue bawa buat dia. Gue hanya perlu memperlihatkan diri gue dan mengatakan 'Hai teman, senang bertemu denganmu'. Masih berharap? Ya, disini gue masih berharap. Tapi, gue gak akan lagi menunjukkan harapan itu dan membiarkan semua ini hilang dengan sendirinya. Gue gak akan lagi berusaha lebih untuk mengukir satu senyum di wajahnya. Gue cukup mendoakannya, karena itu, ini saatnya gue diam dan gak banyak bicara. Semua ini tentang dia. Miris memang."
yang sebenernya gak terlalu gue butuhin. Bukannya gak tau terima kasih, hanya saja gue gak mau dikasianin. Sampai akhirnya, hari ini ada dan gue terdiam. Mungkin ini akan menjadi awal 'saatnya diam' bagi gue. Mungkin juga lo yang baca gak ngerti kenapa tiba-tiba ada kata 'diam' disini. Ini karena sebuah ketegasan tersirat dalam sebuah pembicaraan. Ternyata hal tersirat lebih mengenai sasaran daripada mengatakan 'aku tidak tahu alasannya'. Kini, gue udah tahu kelak gue akan bertemu dia sebagai apa. Ya, sebagai teman tanpa kata 'mantan' menyelip diantaranya. Gue gak perlu mikir akankah gue mau bertemu dengan dia. Gue gak perlu mikir apa yang harus gue bawa buat dia. Gue hanya perlu memperlihatkan diri gue dan mengatakan 'Hai teman, senang bertemu denganmu'. Masih berharap? Ya, disini gue masih berharap. Tapi, gue gak akan lagi menunjukkan harapan itu dan membiarkan semua ini hilang dengan sendirinya. Gue gak akan lagi berusaha lebih untuk mengukir satu senyum di wajahnya. Gue cukup mendoakannya, karena itu, ini saatnya gue diam dan gak banyak bicara. Semua ini tentang dia. Miris memang."
Seperti itulah update statusnya malam itu. Entah dia nyontek dimana, entah karena terlalu terobsesi dengan buku Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika yang dia punya, atau mungkin itu pure dari hatinya. Tapi seperti itulah yang dia tulis dan siapa yang tau kalo itu sama dengan apa yang tengah dia rasakan saat itu.
Berusaha untuk merelakan sesuatu yang selama ini sudah kita pertahankan bukanlah hal yang mudah. Mencoba untuk memikirkan waktu yang akan terlewati dengan perubahan drastis, jelas membuat kita merasa asing. Melepaskan seseorang yang sudah sangat kita sayangi, sama seperti merelakan satu bagian dari diri kita untuk di bawa pergi. Susah. Kalaupun kita terlihat tegar dengan update status di facebook dan twitter, itu hanya membohongi diri kita sendiri. Mengatakan bahwa kita baik-baik saja tanpanya sambil tersenyum sama saja dengan mengajarkan kita menjadi sosok yang munafik. Tapi apa yang harus kita lakukan? Menangis pun tidak akan mengubah keadaan dan mengembalikan dia yang hilang.
Malam ini, gue jadi stalker lagi. Ngintip timeline teman-teman gue yang heboh di timeline gue. Ada satu sosok yang kembali menarik perhatian gue setelah kemarin gue, dia dan teman-teman lain buka bareng di sebuah tempat makan.
Diman. Nama lengkapnya, Suhardiman. Dia teman SMP gue dan merangkap sebagai teman SMA gue juga. Gue enggak tau dia berasal darimana, yang jelas dia bukan orang Jawa. Karena waktu SMP banyak teman yang menyangka dia sebagai orang Jawa karena namanya yang berawalan "su".
"Diman, orang jawa ko kah?" tanya teman-teman SMP gue.
"Bukan. Kenapaikah?"
"Nda ji iyyah. Cuma namamu kayak nama Jawa. Biasanya kan orang Jawa pake awalan "su" namanya," jawab teman gue yang kemudian di sambut dengan cengiran Diman.
Back to topik, malam ini gue stalking timelinenya dia cuma karena status "sesuatu yang tak bisa kurasakan pada orang lain". Diman pernah menjadi orang yang istimewa di hati teman gue juga. Ucy. Dan sebaliknya pun seperti itu. Dua tahun mereka bersama dan akhirnya berpisah karena alasan yang tak jelas. Mungkin alasannya jelas untuk mereka berdua, tapi tak jelas bagi kami yang tidak merasakan apa yang mereka rasakan.
Gue masih ingat jelas bagaimana mereka berdua sering bersama. Gue masih ingat jelas, foto-foto yang sering Ucy perlihatkan ke gue saat itu. Gue masih ingat jelas saat teman gue itu terjatuh di lapangan basket dan Diman spontan berlari membopongnya. Gue masih ingat jelas waktu dia menangis saat Diman kecelakaan di depan rumah Ibu Salma hingga harus dirawat dan batal ikut rekreasi di Malino. Gue masih ingat jelas semuanya. Mungkin bukan cuma gue, tapi mereka pun demikian.
Dan akhirnya waktu membawa mereka ke masa sekarang. Masa dimana mereka seperti tidak menemukan sosok yang mampu mereka cintai seperti cinta yang dulu mereka rasakan satu sama lain. Ucy sudah berulang kali menjalin hubungan dengan orang lain, begitu pun Diman. Tapi belum ada yang mampu bertahan sejauh mereka dulu. Dan sepertinya belum ada sosok yang mampu menghapus salah satu dari mereka di hati mereka masing-masing.
Ada sesuatu yang gue lihat dari caranya melihat Diman kemarin, masih sama seperti caranya beberapa tahun yang lalu. Mungkin gue terlalu sok tau menilai perasaan seseorang. Tapi karena ini tulisan gue, jadi gue merasa berhak untuk berpendapat bahwa perasaan dia masih sama seperti dulu, begitu pun Diman. *evil smile*
Gue heran sendiri, kenapa perasaan yang masih sama itu susah untuk disatukan lagi? Kenapa begitu susah mengabaikan ego dan gengsi untuk menyatukan rasa yang mestinya bisa bersatu? Apa yang salah? Apa yang sulit? Apa alasannya?
"Sorry I didn't have the right to love" kata Diman di twitternya.
"Maybe I didn't have the right to love you anymore," kata Ucy di twitter.
Mereka berdua mencoba untuk tegar. Mereka berdua berusaha untuk baik-baik saja. Mereka berdua berusaha untuk membuktikan bahwa apa yang mereka pilih itulah yang terbaik untuk mereka. Tapi nyatanya? Mungkin memang benar mereka baik-baik saja, tapi kenapa yang terlihat jauh dari kalimat "baik-baik saja" ?
Nawi, Diman, Ucy, teman-teman gue yang lain, hingga gue sendiri selalu berusaha untuk menerima semua keputusan dan pilihan yang ada. Mencoba untuk mengikhlaskan sesuatu yang sebenarnya begitu sulit untuk kita lepas. Mencoba memaknai kalimat "semua akan indah pada waktunya" walaupun nyatanya sekarang, bukan keindahan yang tengah dirasakan.
Gue udah move on. Sedang dalam proses untuk mepercayai sosok yang baru dalam hidup gue. Dia mungkin tidak sesempurna orang yang dulu pernah ada di hidup gue, tapi setidaknya dia selalu berusaha untuk jadi yang terbaik bagi gue. Gue mencoba menjalani semuanya. Berharap mungkin suatu hari nanti, gue enggak akan mencoba untuk melupakan lagi. Dan gue berharap, teman-teman gue juga bisa seperti gue saat ini. Menemukan seseorang yang bisa mereka sayangi seperti rasa sayang yang mereka berikan ke orang itu.
dilla kusuka tulisanmu, lagunya juga :'
BalasHapusnda lebayka nah tp turun sndiri hujan dri mataku :'kubyangkan seandainya z diposisi itu nd bisaka kyakx sekuat itu.. serius nda bisa pasti !!
insya allah tmbah bisaka menghargai org yg sayangka skrg dilla..
*buat yg nmax di atas [ keep spirit buat semuanya ] :)
speechless...
BalasHapuskeren dilla....
inimi salahsatu posting favoritku...
di tunggu posting-posting selanjutnya...
@Ammyoo_ ammiinnn .. twengkiyuu sayang :*
BalasHapus@nawii_ hahaha.. tengkiyuu mament ;)