Apa sih yang pertama kalian pikirkan saat mendengar ataupun membaca kata "guru" ? Seorang lelaki atau wanita dengan sebuah spidol dan tengah bercuap-cuap di depan kelas? Pengajar yang hobi kasih PR menumpuk sampe enggak tanggung-tanggung?
Menurut gue, guru ada sosok yang paling penting dalam masa penjajakan, pendidikan dan penjajahan. Penjajakan karena mereka ada sejak saat kita mulai bisa mengamati dunia luar. Pendidikan karena mereka yang sering mengajari kita tentang hidup ini, entah itu moral, sains, hitung-hitungan, sosial ataupun yang lainnya. Penjajahan, karena menurut gue ketika mereka kasih PR itu di luar batas kemampuan, kesanggupan, keinginan murid-muridnya.
Oke men, malam ini gue mau cerita tentang guru-guru gue. Beberapa guru yang selalu mampir di pikiran gue ketika gue dan teman-teman SMA gue yang lainnya sedang ngumpul. Berbagai sosok dan karakter yang tidak hanya mengajarkan kami pendidikan di bangku sekolah, tapi juga mampu membuat kami memahami bahwa seperti apapun sosok guru itu, someday we will miss them. Again. Again. And again.
SMA gue dulu itu bukan termasuk SMA favorite dan unggulan. Bangunannya tidak semegah dan sekeren sekolah-sekolah lainnya. Tapi fashion guru-gurunya mungkin patut diacungi jempol. Setidaknya gue masih ingat kata-kata salah seorang teman gue saat pertama kali ngeliat Ibu Yaya, guru Agama gue, berjalan di koridor kelas.
"Beuugghh, liat ko weh. Itu ibu Yaya toh? Cantiikkkkk naaaaaa," kata Tamy.
"Pintar ki juga fashion selain cantik wajah," kata gue sambil memerhatikan Ibu Yaya yang emang cantik. Dia udah punya anak tapi tetep cantik. Selain itu, Ibu Yaya baik banget.
Ramah. Dan yang penting, enggak pelit nilai. Enggak salah sih teman-teman gue yang sering bolos, khususnya cowok, lebih rajin masuk pas pelajaran Agama.
Ramah. Dan yang penting, enggak pelit nilai. Enggak salah sih teman-teman gue yang sering bolos, khususnya cowok, lebih rajin masuk pas pelajaran Agama.
Ada juga guru gue yang sudah dua tahun menjadi wali kelas Comet. Namanya Ibu Salma. Di postingan sebelumnya gue pernah sebut namanya. Beliau mengajar mata pelajaran Biologi. Orangnya baaiiikkkk banget. Sabar. Selalu ikutin apa kata anak walinya. Mungkin lebih tepatnya, kami itu terlalu banyak bicara sehingga beliau kehabisan tenaga untuk beradu mulut dengan 35 siswa yang kalo bersamaan bicara itu sama seperti kumpulan penjual baju cakar yang lagi buka baru.
Gue ingat hari itu, sebulan sebelum perayaan Hari Kemerdekaan. Biasanya selalu ada perlombaan antar kelas. Entah itu lomba kebersihan, dekorasi kelas, olahraga, seni, dll. Nah moment-moment seperti yang biasa disalahgunakan oleh teman-teman gue untuk tidak mengerjakan tugas Lembar Kegiatan Siswa (LKS) mereka yang sudah ibu Salma berikan sejak berminggu-minggu sebelumnya.
"Jadi, bemana mi LKSnya? sudah? tukar mii pale' baru periksa sama-sama ki," seru Ibu Salma. Beliau slalu masuk di jam pertama di hari Senin. Hari malas sedunia. Hari padat sedunia. Hari PR sedunia.
"Belum pii bu," kata gue dan teman-teman gue lainnya.
"Ih, kau itu semua di kasih tugas saking belum-belum terus? Lulus peko baru mau kumpul ki iyyah?" Ibu Salma geleng-geleng kepala.
Tamy lalu menutup LKSnya. Tadinya gue kira dia mau setujui kata-kata Ibu Salma tadi. Tapi ternyata jauh dari perkiraan gue. Dia berjalan ke depan kelas, merapikan bajunya lalu berkata, "Begine bu, jammi dulu bahas LKS bu. Bicarakan meki dulu masalah lomba 17 nanti. Belum peki beli gorden, belum peki diskusi dekor kelas, belum peki juga bicarakan masalah baju persatuan ta."
Gue tertegun. Sejak kapan juga tugas bisa di tunda cuma gara-gara mau urus masalah 17-an padahal masih jauh-jauh hari gini.
"Hhmm.. iya di'? Jadi bemana mi itu masalah kelas ta?" pikiran Ibu Salma lalu beralih dari LKS ke masalah gorden dan sepupu-sepupunya.
Lho? Ada apa ini? Kenapa bisa begini? Gue nganga sendiri. Enggak jelas.
Tamy senyum-senyum. Licik benar teman gue itu. Gue benar-benar .. turut berbahagia saat itu! Hebat! Gue bangga punya teman kayak dia. Teman-teman gue yang tadinya sibuk nyontek kanan kiri seperti gue, lalu menutup LKSnya. Alam yang sedari tadi mondar-mandir cari pulpen untuk nyontek, lalu tertegun dengan mulut yang terbuka. Cukup untuk memasukkan bola pimpong.
Wajah penuh ketidakpastian teman-teman gue tiba-tiba berubah. Sama seperti apa yang gue rasakan, mereka pun bahagia. Tamy keliatan seperti angel bersayap burung bangau di hadapan kami. Senyumnya seperti senyum kebahagiaan bagi kami.
Hal tersebut jauh lebih sopan dari apa yang dilakukan oleh Ene saat PR Biologinya enggak selesai. Kalo ditanya apa tugas-tugasnya sudah selesai ato belum, dia mengangguk mantap. Tapi kemudian, saat Ibu Salma menjelaskan jawaban dari tugas-tugas itu, dia justru baru menuliskannya. Dan bakat luar biasa itu menular ke teman-teman gue yang lainnya.
"Weh dill, kau itu pintar tapi bego. Harus ko masuk parpol ku supaya tau ko berpolitik sedikit. Berapa nilai PPKn mu kah? Ckckckck," ujarnya santai.
Omigat! baca men! berulang-ulang bacanya! Gue pun berniat seperti itu. Tapi enggak bisa, soalnya gue duduk paling depan -__-"
Ada juga guru gue yang lainnya. Namanya Pak Amri. Gue lupa nama lengkapnya. Beliau guru olahraga gue di kelas 3 yang juga merangkap sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasana. Orangnya .. hmm .. abstrak. Enggak jelas. Dia agak ... budeg. Jadi suka pake alat bantu pendengaran di salah 1 telinganya. Dia juga suka gangguin teman-teman cewek gue yang cantik-cantik dan bahenol. Contohnya Rista dan Ningso.
Tadinya pas gue ngeliat dia masuk ke kelas gue dengan pakaian olahraga lengkap dengan sumpritan yang tergantung di lehernya dan topi yang selalu melekat di kepalanya yang mulai keguguran, gue kira dia asisten guru olahraga gue yang berhalangan hadir. Tapi ternyata dialah guru olahraganya. Dari bentuk hidung dan air liurnya yang sering muncrat-muncrat kalo bicara, dia enggak punya bakat sama sekali jadi guru olahraga.
"Okeh Assanudding, kau ketua kelas di sini toh? Ko absen teman-temanmu dulu baru keluar di lapangan. Hari ini kita mau praktek masukkan bola basket ke ring," katanya mantap.
Men, nama ketua kelas gue itu bukan Assanudding. Tapi Akhsanuddin Suaib. Pak Amri emang punya kelainan saat menyebutkan nama seseorang.
Teman-teman gue yang cowok suka banget gangguin pak Amri. Enggak jarang, mereka suruh pak Amri buat praktekin apa yang kami pelajari padahal sebenarnya mereka udah tau. Teman-teman gue biasanya emang suka kemasukan sampe tega bully guru-guru sejenis pak Amri.
"Pak, nda di tau ki bemana teknik lompat jauh kalo nda di praktekkan sama kita. Coba ki bede dulu pak ehh," kata Tulla saat praktek lompat jauh kala itu.Pak Amri yang enggak tau kabel otaknya bagian mana yang putus, justru benar-benar mempraktekkannya. Dia mulai ambil ancang-ancang lalu melompat. Sayangnya, pendaratannya tak seindah yang dibayangkan. Dia meluncur, mencoba untuk menjongkok tapi ternyata justru terjatuh dan duduk manis di tumpukan pasir. Jaraknya pun .. cuma semeter.
"Itu tadi jangko ikuti ade," bisik Diman ke gue. Sebodoh-bodohnya gue di pelajaran Olahraga, enggak mau juga tuh mendarat dengan bokong penuh pasir seperti pak Amri.
"Aiii, pak nda sampe dua meter," kata Accang sambil senyum-senyum kecil.
"Kan tua ma tohh, jadi wajar jii. Dulu waktuku muda, 4 meter lebih kudapat," ujar Pak Amri membela diri. Sok banget sihh guru gue itu.
Pernah juga suatu ketika Pak Amri mengajak kami untuk pemanasan sebelum berlari keliling lapangan. Kami semua berbaris. Seperti biasa karena gue paling kecil, jadi gue paling depan. Samping kanan gue Werny, samping kiri gue Dian. Kita siap-siap dengan gerakan dan hitungan yang dipandu oleh Pak Amri sendiri. Beberapa menit menunggu, pak Amri justru enggak bersuara. Dia cuma bergerak kanan-kiri, mengangkat tangannya ke atas, membungkuk, hingga menggeleng-gelengkan kepalanya. Tadinya gue kira penyakit ayannya kambuh. Tapi ternyata bukan, dia sedang pemanasan tanpa suara.
"Pak, bikin apa ki?" tanya Nawi tepat di depan pak Amri.
"Pemanasan," jawab guru gue itu singkat.
"Ih kenapa nda ada hitungannya pak?" tanya Nawi lagi.
"Hitung sendiri dalam hati," jawab pak Amri. Singkat. Padat. Tapi tidak jelas. Mungkin saat itu dia lagi badmood.
Bukan cuma Nawi yang sering terkaget-kaget dengan kalimat yang dikeluarkan oleh pak Amri. Gue pun pernah jadi korbannya. Hari itu gue ujian semester. Pengawasnya kebetulan guru yang mengajar jahit-menjahit. Nah datang dah tuh pak Amri dengan pakaian dinasnya yang rapi. Tiga buah heandphone melekat di ikat pinggangnya. Blackberry, Communicater, hingga hape jenis hitam-putih. Lagi asik-asiknya gue ngerjain soal, eh tiba-tiba dia panggil gue.
"Paradilla, foto ka dulehh sama ibu," suruhnya sambil menyerahkan BB miliknya. Gue pun menuruti perintahnya. Pas gue mau take picture-nya, eh dia malah bilang, "Ko tau ji pake BB kah? Ini ko tindis nah, jangko tindis yang lain." Gila! Senorak itu kah gue? Pengen banget gue cabut satu giginya tuh guru.
Lain nama, lain cerita. Begitu pun dengan Pak Mustafa. Ini guru bahasa Inggris gue. Tadinya gue mengira dia adalah guru Bahasa Daerah, tapi pas dia introduced di kelas, dia pake bahasa Inggris. Ternyata oh ternyata ..
"Okey everybody, how are you?" selalu seperti itu kata pengantarnya saat masuk di kelas gue. Enggak ada yang lain. Dia kira kelas gue masih SD apa?
Pak Mustafa itu orangnya sama abstraknya pak Amri. Badannya kecil tapi kepalanya besar. Dia selalu pake sepatu dengan ukuran besar dan membawa balsem serta sisir di sakunya. Hobinya yaitu .. ngupil di tengah-tengah kelas. Julukannya, Shinchan. Tapi dia selalu jadi imam saat shalat berjamaahn di mushollah.
Suatu ketika dia mengajar di kelas gue. Dia kasih tugas yang harus selesai hari itu. Sambil menunggu, dia mencoleh balsemnya, dan menyapukannya ke wajahnya. Udah pasti matanya kedap-kedip kayak lampu disko yang mulai suap gegara kepedisan. Dia juga sering enggak memperhatikan kegaduhan kelas cuma karena asik nyari upil paling gede miliknya. Abstrak banget enggak sih?
Tapi yah itulah mereka. Beliau-beliau yang dengan karakter bagaimana pun, pernah menjabat sebagai guru kami. Yang walaupun abstrak dan enggak jelas, sempat kita kangenin juga. Sampai saat ini, hanya Ibu Salma yang sering kami temui. Hanya dengan Ibu Salma kami sering saling mengunjungi. Kami bahkan masih selalu memberikan suprise ke beliau saat perayaan ulang tahunnya. Beliau sudah terlampaui baik buat kami. Beliau sudah begitu sabar dalam menghadapi kelakuan kami yang sering buat masalah dengan guru-guru lainnya. Gue masih ingat saat gue dan teman-teman yang lain bekerja sama dengan Ibu Rika untuk memberi suprise ke Ibu Salma. Kami pura-pura dihukum satu kelas di lapangan sekolah hingga semua orang melihat kami. Hingga Ibu Salma datang dengan mata yang berkaca-kaca melihat kami dihukum satu kelas. Beliau bermaksud ingin membicarakan masalah kami dengan ibu Rika namun di tolak oleh ibu Rika. Hingga Tamy, Ucy dan Dian datang dengan membawa sebuah kue ke tengah-tengah lapangan. Gue masih ingat jelas betapa bangganya beliau memiliki kami. Dan betapa beruntungnya kami memiliki ibu sebaik beliau.
Bukan hanya Ibu Salma yang kami banggakan. Pak Amri, Pak Mustafa, Pak Safri, Pak Ahmad Noncy, Pak Muin, Ibu Marfuah, Ibu Rika dan guru lainnya pun demikian. Mereka adalah sosok-sosok yang mampu menemani kami selama mengenakan seragam putih abu-abu. Mereka yang dengan segala bentuk marah, ucapan, bentakan mampu membuat kami menjadi sosok yang tegar. Di luar sana mungkin masih banyak guru yang lebih baik dari mereka. Namun bagi kami, mereka jauh lebih baik. Cara mereka mendidik kami, jauh lebih mahal dari sekedar pendidikan di bangku sekolah. Terima kasih Bapak dan Ibu. Kalian, pahlawan kami tanpa tanda jasa. Maafkan kami yang belum mampu membanggakan kalian saat itu hingga kini. Namun yakinlah, suatu hari nanti kami mampu membuat kalian bangga bahwa telah memiliki murid-murid seperti kami.
kira-kira kalo guru baca ini bagaimana ekspresinya? hehehe
BalasHapus